Kelas Turbellaria (Cacing Berambut Getar), Trematoda dan Cestoda (Cacing Pita) Beserta Contohnya
kali ini kita BACAMAS.COM akan membahas tentang Kelas Turbellaria (Cacing Berambut Getar),Trematoda dan Cestoda (Cacing Pita). semoga dapat dengan mudah di pahami.
A. Kelas Turbellaria
Binatang dari kelas Turbellaria memiliki wujud tubuh pipih dan memiliki silia (bulu getar). Umumnya hidup di air tawar yang bening, air laut, atau tempat lembab dan jarang yang bersifat parasit. Beberapa macam memiliki dua mata dan tanpa alat hisap. Binatang ini memiliki kecakapan regenerasi yang besar, ialah dari tiap-tiap potongan tubuhnya bisa tumbuh menjadi individu baru.
Binatang dari kelas Turbellaria memiliki wujud tubuh pipih dan memiliki silia (bulu getar). Umumnya hidup di air tawar yang bening, air laut, atau tempat lembab dan jarang yang bersifat parasit. Beberapa macam memiliki dua mata dan tanpa alat hisap. Binatang ini memiliki kecakapan regenerasi yang besar, ialah dari tiap-tiap potongan tubuhnya bisa tumbuh menjadi individu baru.
Teladan Turbellaria antara lain Planaria yang berukuran 0,5 – 1,0 cm dan Bipalium yang mempuproboscis (tenggorok yang bisa ditonjolkan keluar). Planaria memiliki sistem pencernaan yang terdiri dari mulut, faring, dan usus yang bercabang 3 ialah satu cabang ke arah anterior dan 2 cabang ke komponen samping tubuh. Percabangan ini berfungsi untuk peredaran bahan makanan dan memperluas bidang penguapan. Planaria tidak memiliki anus pada saluran pencernaan makanan sehingga sisa makanan yang tidak tercerna dikeluarkan lewat mulut. Planaria sering dimanfaatkan sebagai pakan ikan.
B. Kelas Trematoda
Semua anggota Trematoda hidup sebagai parasit pada Vertebrata bagus berupa ektoparasit (pada ikan) maupun sebagai endoparasit. Binatang Trematoda memiliki tubuh yang diliputi kutikula dan tidak bersilia. Pada ujung anterior ada mulut dengan alat pengisap (sucker) yang juga dilengkapi dengan kait sehingga disebut dengan cacing isap. Trematoda bersifat hemafrodit. Teladan binatang Trematoda ialah Fasciola hepatica (cacing hati, parasit pada hati domba), Fasciola gigantica (parasit pada hati sapi), Chlonorchis sinensis (cacing hati, parasit pada manusia), Schistosoma mansoni (cacing darah), dan Paragonimus westermani (parasit pada paru-paru manusia, kucing, anjing, dan babi).
Daur hidup cacing hati (Fasciola hepatica) ialah sebagai berikut. Cacing dewasa bertelur di dalam saluran atau kantong empedu sapi atau domba. Telur masuk ke saluran pencernaan dan keluar dari tubuh bersama feses. Seandainya menempuh tempat berair, telur kemudian menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Mirasidium kemudian masuk ke dalam tubuh siput air tawar (Lymnea auricularisrubigranosa).
B. Kelas Trematoda
Semua anggota Trematoda hidup sebagai parasit pada Vertebrata bagus berupa ektoparasit (pada ikan) maupun sebagai endoparasit. Binatang Trematoda memiliki tubuh yang diliputi kutikula dan tidak bersilia. Pada ujung anterior ada mulut dengan alat pengisap (sucker) yang juga dilengkapi dengan kait sehingga disebut dengan cacing isap. Trematoda bersifat hemafrodit. Teladan binatang Trematoda ialah Fasciola hepatica (cacing hati, parasit pada hati domba), Fasciola gigantica (parasit pada hati sapi), Chlonorchis sinensis (cacing hati, parasit pada manusia), Schistosoma mansoni (cacing darah), dan Paragonimus westermani (parasit pada paru-paru manusia, kucing, anjing, dan babi).
Daur hidup cacing hati (Fasciola hepatica) ialah sebagai berikut. Cacing dewasa bertelur di dalam saluran atau kantong empedu sapi atau domba. Telur masuk ke saluran pencernaan dan keluar dari tubuh bersama feses. Seandainya menempuh tempat berair, telur kemudian menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Mirasidium kemudian masuk ke dalam tubuh siput air tawar (Lymnea auricularisrubigranosa).

1) Di dalam tubuh siput ini, mirasidium tumbuh menjadi sporokis dan berada di dalam tubuh siput selama lebih kurang 2 pekan.
2) Sporokis berkembang menjadi larva yang disebut redia.
3) Redia lalu akan menuju ke jaringan yang ada di tubuh siput dan kemudian berkembang menjadi larva yang memiliki ekor yang disebut dengan serkaria. Serkaria bisa menembus jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air.
4) Larva kemudian melekat pada rumput dan melepaskan ekornya dan menjadi metaserkaria. Metaserkaria membungkus diri menyusun kista yang bisa bertahan dalam waktu yang lama dengan tetap melekat pada rumput atau tumbuhan air.
5) Seandainya rumput tersebut termakan oleh sapi atau domba, kista pecah dan metaserkaria bisa menembus dinding usus menuju ke dalam hati, saluran empedu, dan menjadi sesudah sebagian bulan. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.nyai panjang tubuh hingga 60 cm dan hanya keluar di malam hari. Planaria memiliki kepala berbentuk segitiga. Pada kepala terdapat dua bintik mata yang bisa membedakan intensitas sinar. Permukaan tubuh Planaria bersilia dan di tengah-tengah komponen tubuh terdapat mulut yang dilekngkapi dengan
C. Kelas Cestoda (Cacing Pita)
Cacing pita memiliki tubuh yang pipih dan dilindungi lapisan kutikula, panjangnya menempuh 2 – 3 m yang terdiri dari komponen kepala (skoleks) dan tubuh (strobila). Kepala dilengkapi alat pengisap berjumlah dua atau lebih. Setiap segmen yang menyusun strobila mengandung alat perkembangbiakan. Makin ke posterior segmen makin melebar. Setiap segmen (proglotid) ialah satu individu dan bersifat hermafrodit. Cacing ini lazimnya hidup sebagai parasit dalam usus Vertebrata, oleh sebab itu tidak memiliki alat pencernaan. Metode eksresi terdiri dari saluran pengeluaran yang usai dengan sel api. Metode syaraf sama seperti Planaria dan cacing hati, tapi kurang berkembang. Teladan Cestoda ialah Taenia saginata (parasit dalam usus manusia), Taenia solium (parasit dalam usus manusia), Choanotaenia infudibulum (parasit dalam usus ayam), Echinococcus granulosus (parasit dalam usus anjing), dan Diphyllobothrium latum (menyerang manusia lewat inang protozoa).
2) Sporokis berkembang menjadi larva yang disebut redia.
3) Redia lalu akan menuju ke jaringan yang ada di tubuh siput dan kemudian berkembang menjadi larva yang memiliki ekor yang disebut dengan serkaria. Serkaria bisa menembus jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air.
4) Larva kemudian melekat pada rumput dan melepaskan ekornya dan menjadi metaserkaria. Metaserkaria membungkus diri menyusun kista yang bisa bertahan dalam waktu yang lama dengan tetap melekat pada rumput atau tumbuhan air.
5) Seandainya rumput tersebut termakan oleh sapi atau domba, kista pecah dan metaserkaria bisa menembus dinding usus menuju ke dalam hati, saluran empedu, dan menjadi sesudah sebagian bulan. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.nyai panjang tubuh hingga 60 cm dan hanya keluar di malam hari. Planaria memiliki kepala berbentuk segitiga. Pada kepala terdapat dua bintik mata yang bisa membedakan intensitas sinar. Permukaan tubuh Planaria bersilia dan di tengah-tengah komponen tubuh terdapat mulut yang dilekngkapi dengan
C. Kelas Cestoda (Cacing Pita)
Cacing pita memiliki tubuh yang pipih dan dilindungi lapisan kutikula, panjangnya menempuh 2 – 3 m yang terdiri dari komponen kepala (skoleks) dan tubuh (strobila). Kepala dilengkapi alat pengisap berjumlah dua atau lebih. Setiap segmen yang menyusun strobila mengandung alat perkembangbiakan. Makin ke posterior segmen makin melebar. Setiap segmen (proglotid) ialah satu individu dan bersifat hermafrodit. Cacing ini lazimnya hidup sebagai parasit dalam usus Vertebrata, oleh sebab itu tidak memiliki alat pencernaan. Metode eksresi terdiri dari saluran pengeluaran yang usai dengan sel api. Metode syaraf sama seperti Planaria dan cacing hati, tapi kurang berkembang. Teladan Cestoda ialah Taenia saginata (parasit dalam usus manusia), Taenia solium (parasit dalam usus manusia), Choanotaenia infudibulum (parasit dalam usus ayam), Echinococcus granulosus (parasit dalam usus anjing), dan Diphyllobothrium latum (menyerang manusia lewat inang protozoa).
Daur hidup Taenia saginata dimulai dari dalam usus manusia yang terdapat proglotid masak ialah segmen cacing yang mengandung sel telur yang telah dibuahi (embrio). Telur ini kemudian keluar bersama feses. Seandainya telur termakan sapi dan hingga pada usus akan tumbuh dan berkembang menjadi larva onkoster. Larva kemudian menembus usus dan kemudian masuk ke dalam pembuluh darah atau bisa juga pembuluh limpa, lalu menuju ke otot lurik dan terakhir menyusun kista yang disebut dengan sistiserkus bovis (larva cacing). Kista akan membesar dan menyusun gelembung yang disebut sistiserkus. Manusia akan tertular cacing ini jikalau memakan daging sapi mentah atau setengah matang. Dinding sistiserkus yang akan dicerna oleh lambung sehingga larva akan dibebaskan. Larva melekat pada usus manusia dengan menerapkan skoleks. Larva kemudian tumbuh menyusun proglotid yang bisa menjadikan telur. Amati daur hidup Taenia saginata pada Gambar 8.18. Taenia solium mirip dengan Taenia saginata, bedanya ialah skoleks pada Taenia saginata memiliki alat pengisap tanpa kait dan inang perantaranya ialah sapi, meskipun Taenia solium memiliki skoleks dilengkapi dengan kait dan inang perantaranya ialah babi.
Belum ada Komentar untuk "Kelas Turbellaria (Cacing Berambut Getar), Trematoda dan Cestoda (Cacing Pita) Beserta Contohnya"
Posting Komentar