Klasifikasi Keanekaragaman Hayati
Kali ini kita akan membahas artikel tentang Klasifikasi Keanekaragaman Hayati. semoga dapat di pelajari dan bermanfaat.
Kamu sudah mengetahui perihal keanekaragaman hayati, baik tingkat gen, tingkat tipe, ataupun tingkat ekosistem. Untuk memudahkan mempelajarinya, makhluk hidup digolongkan menjadi klasifikasi-klasifikasi menurut kesamaan ciri tertentu. Pengelompokan tersebut disebut dengan klasifikasi. Kelompok bertujuan untuk menyederhanakan objek (makhluk hidup) sehingga mudah dipelajari. Cabang biologi yang khusus mempelajarinya disebut taksonomi. Tujuan klasifikasi yang dijalankan oleh para spesialis biologi antara lain sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan ciri-ciri makhluk hidup yang membedakan antarjenis sehingga mudah dikenal.
2. Mengkategorikan makhluk hidup menurut ciri-cirinya.
3. Mengenal hubungan hubungan antar makhluk hidup.
4. Mengenal tingkat evolusi makhluk hidup atas dasar kekerabatannya.
1. Metode Kelompok
Kelompok sebenarnya yakni pengelompokan makhluk hidup menurut keseragaman ciri atau sifat di antara keanekaragaman sifat yang ada pada di antara makhluk hidup hal yang demikian. Umpamanya ada klasifikasi hewan buas dan tidak buas, klasifikasi hewan pemakan rumput dan pemakan daging, tumbuhan obat-obatan, tumbuhan penghasil pangan, dan tanaman hias. Tentu kau bisa melakukan pengelompokan makhluk hidup dengan metode seperti itu.
Banyak spesialis yang mengoptimalkan metode pengelompokan makhluk hidup yang lebih baik, umpamanya Aristoteles (384 – 322 SM) mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi dua klasifikasi, yakni tumbuhan dan hewan. Tumbuhan dikelompokkan menjadi herba, semak, dan pohon. Walaupun hewan digolongkan menjadi hewan berdarah dan tidak berdarah. John Ray (1627 – 1708) merintis pengelompokkan makhluk hidup menjadi klasifikasi-klasifikasi kecil dan menyampaikan konsep perihal spesies. Carolus Linnaeus (1707 – 1778), mengklasifikasikan makhluk hidup menurut kesamaan struktur ke dalam takson-takson dan menyampaikan metode tata nama makhluk hidup yang dikenal dengan binomial nomenklatur.
Makhluk hidup dikelompokkan menjadi lima kingdom/ kerajaan yakni Archaebacteria, Eubacteria, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia. Tiap klasifikasi yang terbentuk dari hasil klasifikasi makhluk hidup disebut takson. Pengelompokan tersebut masuk ke dalam takson-takson yang didasarkan atas berbagaipersamaan dan juga perbedaan ciri dari morfologi, fisiologi, dan anatominya. Kini juga dikembangkan perunutan sekuens ADN untuk menentukan hubungan makhluk hidup. Makin banyak persamaan, maka dikatakan akan makin dekat hubungan kekerabatannya dan juga makin sedikit persamaannya, maka akan makin jauh kekerabatannya. Makhluk hidup yang mempunyai banyak persamaan ciri, bisa saling kawin dan menciptakan keturunan yang fertil (subur), dimasukkan ke dalam suatu klasifikasi (takson) yang disebut spesies atau tipe. Sebagian spesies atau tipe yang berkerabat dekat bisa dikelompokkan ke dalam takson famili atau suku. Famili yang berkerabat dekat menyusun ordo atau bangsa. Ordo-ordo yang memiliki kerabat dengan dekat dapat dikelompokkan ke dalam satu kelas. Kelas-kelas yang berkerabat dikelompokkan ke dalam suatu filum untuk hewan, pada tumbuhan disebut divisi. Segala filum dan atau divisi yang berkerabat menyusun kingdom atau kerajaan. Dengan metode ini maka terbentuk tingkatan klasifikasi atau tingkatan takson. Kian tinggi kedudukan suatu takson maka semakin sedikit persamaan ciri tapi semakin banyak jumlah anggotanya. Sebaliknya jika semakin rendah kedudukan takson, maka semakin banyak persamaan ciri-cirinya, namun jumlah anggotanya sedikit.
Metode klasifikasi makhluk hidup terus berkembang paralel dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Ketika ini dikenal tiga metode klasifikasi makhluk hidup, yakni metode artifisial (buatan), metode alami, dan metode filogenetik.
1. Mendeskripsikan ciri-ciri makhluk hidup yang membedakan antarjenis sehingga mudah dikenal.
2. Mengkategorikan makhluk hidup menurut ciri-cirinya.
3. Mengenal hubungan hubungan antar makhluk hidup.
4. Mengenal tingkat evolusi makhluk hidup atas dasar kekerabatannya.
1. Metode Kelompok
Kelompok sebenarnya yakni pengelompokan makhluk hidup menurut keseragaman ciri atau sifat di antara keanekaragaman sifat yang ada pada di antara makhluk hidup hal yang demikian. Umpamanya ada klasifikasi hewan buas dan tidak buas, klasifikasi hewan pemakan rumput dan pemakan daging, tumbuhan obat-obatan, tumbuhan penghasil pangan, dan tanaman hias. Tentu kau bisa melakukan pengelompokan makhluk hidup dengan metode seperti itu.
Banyak spesialis yang mengoptimalkan metode pengelompokan makhluk hidup yang lebih baik, umpamanya Aristoteles (384 – 322 SM) mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi dua klasifikasi, yakni tumbuhan dan hewan. Tumbuhan dikelompokkan menjadi herba, semak, dan pohon. Walaupun hewan digolongkan menjadi hewan berdarah dan tidak berdarah. John Ray (1627 – 1708) merintis pengelompokkan makhluk hidup menjadi klasifikasi-klasifikasi kecil dan menyampaikan konsep perihal spesies. Carolus Linnaeus (1707 – 1778), mengklasifikasikan makhluk hidup menurut kesamaan struktur ke dalam takson-takson dan menyampaikan metode tata nama makhluk hidup yang dikenal dengan binomial nomenklatur.
Makhluk hidup dikelompokkan menjadi lima kingdom/ kerajaan yakni Archaebacteria, Eubacteria, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia. Tiap klasifikasi yang terbentuk dari hasil klasifikasi makhluk hidup disebut takson. Pengelompokan tersebut masuk ke dalam takson-takson yang didasarkan atas berbagaipersamaan dan juga perbedaan ciri dari morfologi, fisiologi, dan anatominya. Kini juga dikembangkan perunutan sekuens ADN untuk menentukan hubungan makhluk hidup. Makin banyak persamaan, maka dikatakan akan makin dekat hubungan kekerabatannya dan juga makin sedikit persamaannya, maka akan makin jauh kekerabatannya. Makhluk hidup yang mempunyai banyak persamaan ciri, bisa saling kawin dan menciptakan keturunan yang fertil (subur), dimasukkan ke dalam suatu klasifikasi (takson) yang disebut spesies atau tipe. Sebagian spesies atau tipe yang berkerabat dekat bisa dikelompokkan ke dalam takson famili atau suku. Famili yang berkerabat dekat menyusun ordo atau bangsa. Ordo-ordo yang memiliki kerabat dengan dekat dapat dikelompokkan ke dalam satu kelas. Kelas-kelas yang berkerabat dikelompokkan ke dalam suatu filum untuk hewan, pada tumbuhan disebut divisi. Segala filum dan atau divisi yang berkerabat menyusun kingdom atau kerajaan. Dengan metode ini maka terbentuk tingkatan klasifikasi atau tingkatan takson. Kian tinggi kedudukan suatu takson maka semakin sedikit persamaan ciri tapi semakin banyak jumlah anggotanya. Sebaliknya jika semakin rendah kedudukan takson, maka semakin banyak persamaan ciri-cirinya, namun jumlah anggotanya sedikit.
Metode klasifikasi makhluk hidup terus berkembang paralel dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Ketika ini dikenal tiga metode klasifikasi makhluk hidup, yakni metode artifisial (buatan), metode alami, dan metode filogenetik.

a. Metode artifisial atau buatan, mengaplikasikan ciri-ciri atau sifatsifat yang layak dengan kehendak manusia atau sifat yang lain. Umpamanya tumbuhan dikelompokkan menurut habitus atau perawakan menjadi pohon, perdu, semak, terna, dan memanjat. Tokoh metode Artifisial antara lain Aristoteles dan Carolus Linnaeus.
b. Metode alami , dirintis oleh Michael Adams dan Jean Baptiste de Lamarck yang menghendaki agar klasifikasi atau takson dibentuk secara alami yakni mengaplikasikan dasar persamaan dan perbedaan morfologi secara alami atau sewajarnya. Model, hewan berkaki dua, berkaki empat, tidak berkaki, hewan bersayap, hewan bersirip, hewan berbulu, bersisik, berbulu, dan lain-lain. Walaupun pada tumbuhan ada klasifikasi tumbuhan biji berkeping satu dan tumbuhan berkeping biji berkeping dua.
c. Metode Filogenetik, timbul setelah dikemukakan teori evolusi oleh Charles Darwin pada tahun 1859 yang menyusun takson menurut sifat morfologi, anatomi, fisiologinya, dan jauh dekatnya hubungan hubungan antara takson yang satu dengan yang lainnya serta mengacu pada hubungan evolusioner nenek moyang dan keturunannya. Perkembangan metode klasifikasi filogenetik yakni sebagai berikut.
b. Metode alami , dirintis oleh Michael Adams dan Jean Baptiste de Lamarck yang menghendaki agar klasifikasi atau takson dibentuk secara alami yakni mengaplikasikan dasar persamaan dan perbedaan morfologi secara alami atau sewajarnya. Model, hewan berkaki dua, berkaki empat, tidak berkaki, hewan bersayap, hewan bersirip, hewan berbulu, bersisik, berbulu, dan lain-lain. Walaupun pada tumbuhan ada klasifikasi tumbuhan biji berkeping satu dan tumbuhan berkeping biji berkeping dua.
c. Metode Filogenetik, timbul setelah dikemukakan teori evolusi oleh Charles Darwin pada tahun 1859 yang menyusun takson menurut sifat morfologi, anatomi, fisiologinya, dan jauh dekatnya hubungan hubungan antara takson yang satu dengan yang lainnya serta mengacu pada hubungan evolusioner nenek moyang dan keturunannya. Perkembangan metode klasifikasi filogenetik yakni sebagai berikut.

1) Metode dua kingdom, diberi tahu oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1735 yakni kindom Vegetabilia dan Animalia.
2) Metode tiga kingdom, diusulkan oleh Haeckel pada tahun 1866 yakni kingdom Protista, Plantae, dan Animalia.
3) Metode empat kingdom, dikemukakan oleh Herbert Copeland pada tahun 1956. Copeland menambahkan satu kindom Protoctista sehingga terdapat empat kingdom yakni Monera, Protoctista, Plantae, dan Animalia.
4) Metode lima kingdom, yang dikatakan oleh Robert Whittaker yaitu pada tahun 1969 yang kemudian membagi Protoctista menjadi 2 kingdom yaitu kingdom Protista dan kingdom Fungi sehingga saat itu menjadi lima kingdom, yaitu kingdom Monera, Protista, Fungi, Plantae, dan yang terakhir Animalia. Sebelumnya pada tahun 1937 Chatton mengusulkan pembagian makhluk hidup menjadi dua klasifikasi utama yakni Prokaryota dan Eukaryota yang didasarkan pada ada tidaknya membran inti sel.
5) Metode enam kingdom, diusulkan oleh Carl Woese pada tahun 1977. Woese membagi Monera menjadi dua kingdom yakni Archaebacteria dan Eubacteria sehingga terdapat enam kingdom. Pada tahun 1990, Woese dan rekan-rekannya kembali mengusulkan metode pengelompokan makhluk hidup menjadi tiga domain yakni Bacteria, Archaea, dan Eukarya.
2. Tata Nama Makhluk Hidup
Persebaran suatu tipe makhluk hidup yang luas kerap kali menyebabkan suatu makhluk hidup mempunyai nama yang berbeda-beda. Umpamanya orang Jawa Tengah menyebutnya mangga sebagai pelem, paoh bagi orang Jawa Timur, dan di Sumatra Barat disebut pauh. Agar nama tipe suatu makhluk hidup bisa dimengerti oleh semua orang, maka perlu diberikan nama ilmiah dengan mengaplikasikan nama latin, layak dengan Kode Internasional Tata Nama Tumbuhan dan Hewan.
Nama ilmiah bermanfaat sebagai alat komunikasi ilmiah di tingkat internasional. Walaupun kadang-kadang sulit dieja atau diingat, tapi suatu organisme cuma mempunyai satu nama yang benar dan diakui di mana saja. Carolus Linnaeus mengusulkan metode tata nama yang diakui secara internasional yakni metode binomial nomenklatur (tata nama biner). Berikut ini ketentuan pemberian nama takson tipe, marga, dan suku.
2) Metode tiga kingdom, diusulkan oleh Haeckel pada tahun 1866 yakni kingdom Protista, Plantae, dan Animalia.
3) Metode empat kingdom, dikemukakan oleh Herbert Copeland pada tahun 1956. Copeland menambahkan satu kindom Protoctista sehingga terdapat empat kingdom yakni Monera, Protoctista, Plantae, dan Animalia.
4) Metode lima kingdom, yang dikatakan oleh Robert Whittaker yaitu pada tahun 1969 yang kemudian membagi Protoctista menjadi 2 kingdom yaitu kingdom Protista dan kingdom Fungi sehingga saat itu menjadi lima kingdom, yaitu kingdom Monera, Protista, Fungi, Plantae, dan yang terakhir Animalia. Sebelumnya pada tahun 1937 Chatton mengusulkan pembagian makhluk hidup menjadi dua klasifikasi utama yakni Prokaryota dan Eukaryota yang didasarkan pada ada tidaknya membran inti sel.
5) Metode enam kingdom, diusulkan oleh Carl Woese pada tahun 1977. Woese membagi Monera menjadi dua kingdom yakni Archaebacteria dan Eubacteria sehingga terdapat enam kingdom. Pada tahun 1990, Woese dan rekan-rekannya kembali mengusulkan metode pengelompokan makhluk hidup menjadi tiga domain yakni Bacteria, Archaea, dan Eukarya.
2. Tata Nama Makhluk Hidup
Persebaran suatu tipe makhluk hidup yang luas kerap kali menyebabkan suatu makhluk hidup mempunyai nama yang berbeda-beda. Umpamanya orang Jawa Tengah menyebutnya mangga sebagai pelem, paoh bagi orang Jawa Timur, dan di Sumatra Barat disebut pauh. Agar nama tipe suatu makhluk hidup bisa dimengerti oleh semua orang, maka perlu diberikan nama ilmiah dengan mengaplikasikan nama latin, layak dengan Kode Internasional Tata Nama Tumbuhan dan Hewan.
Nama ilmiah bermanfaat sebagai alat komunikasi ilmiah di tingkat internasional. Walaupun kadang-kadang sulit dieja atau diingat, tapi suatu organisme cuma mempunyai satu nama yang benar dan diakui di mana saja. Carolus Linnaeus mengusulkan metode tata nama yang diakui secara internasional yakni metode binomial nomenklatur (tata nama biner). Berikut ini ketentuan pemberian nama takson tipe, marga, dan suku.
a. Nama Ragam Nama tipe untuk hewan ataupun tumbuhan harus
terdiri atas dua kata tunggal yang sudah dilatinkan. Umpamanya, tanaman jagung
nama spesiesnya (tipe) Zea mays. Burung merpati nama spesiesnya Columba livia.
Kata pertama yakni nama marga (genus), meskipun kata kedua, yakni pertanda
spesies atau pertanda tipe. Pada penulisan nama marga, huruf pertama dimulai
dengan huruf besar, meskipun nama pertanda tipe, seluruhnya mengaplikasikan
huruf kecil. Dalam penulisannya, nama spesies dicetak miring atau digarisbawahi
agar bisa dibedakan dengan nama atau istilah lain.
Model:
- Zea mays (jagung)
- Columba livia (burung merpati)
- Oryza sativa (padi)
- Canis familiaris (anjing)
b. Nama Marga (Genus) Nama marga tumbuhan ataupun hewan terdiri atas suku kata yang yakni kata benda berbentuk tunggal. Huruf pertama ditulis dengan huruf besar. Model, marga tumbuhan Solanum (terong-terongan) dan marga hewan Felis (kucing).
c. Nama Suku (Familia) Nama-nama suku pada biasanya yakni suku kata sifat yang diwujudkan sebagai kata benda berbentuk jamak. Biasanya hal itu berasal dari nama dari marga makhluk hidup tersebut. Pada tumbuhan, nama suku ditambahkan akhiran aceae. Model, nama suku Solanaceae, berasal dari kata Solanum + aceae. Tapi pada hewan ditambahkan dengan idea. Model, nama suku Felidae, berasal dari kata Felis + idea.
Belum ada Komentar untuk "Klasifikasi Keanekaragaman Hayati"
Posting Komentar