Pengertian dan Jenis-jenis Ekosistem Air Laut Beserta Contohnya
Kali ini kita akan membahas artikel tentang pengertian dan jenis-jenis ekosistem air laut beserta contohnya. semoga dapat dengan mudah di pahami
Ekosistem adalah suatu interaksi yang rumit dan mempunyai penyusun yang beraneka. Di bumi ada beraneka macam ekosistem. Secara garis besar ekosistem yang kemudian dibedakan menjadi 2 yaitu ekosistem darat dan juga ekosistem perairan. Ekosistem perairan ada 2 yang meliputi ekosistem air tawar juga dan ekosistem air laut.
Ekosistem air laut dibedakan atas 4 hal yaitu lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang.
a. Ekosistem Laut
Ekosistem air laut dibedakan atas 4 hal yaitu lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang.
a. Ekosistem Laut

Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi terlebih di daerah laut tropis, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropis, suhu air laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu komponen atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di komponen atas dengan air yang dingin di komponen bawah disebut daerah termoklin.
Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, alhasil daerah permukaan laut tetap subur sehingga banyak plankton dan ikan. Gerakan air dari pantai ke tengah menyebabkan air komponen atas turun ke bawah dan sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung bagus. Habitat laut dapat dibedakan menurut kedalaman dan wilayah permukaan secara horizontal. Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi menjadi sebagian daerah, adalah sebagai berikut.
1) Litoral adalah daerah yang berbatasan dengan darat.
2) Neretik adalah daerah yang masih dapat ditembus sinar sang surya hingga komponen dasar yang dalamnya ± 300 meter.
3) Basial adalah daerah yang dalamnya berkisar antara 200 – 2.500 m
4) Abisal adalah daerah yang lebih dalam, adalah antara 1.500 – 10.000 m.
Menurut wilayah permukaan secara horizontal, berturutturut dari tepi laut kian ke tengah, laut dibedakan sebagai berikut.
Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, alhasil daerah permukaan laut tetap subur sehingga banyak plankton dan ikan. Gerakan air dari pantai ke tengah menyebabkan air komponen atas turun ke bawah dan sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung bagus. Habitat laut dapat dibedakan menurut kedalaman dan wilayah permukaan secara horizontal. Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi menjadi sebagian daerah, adalah sebagai berikut.
1) Litoral adalah daerah yang berbatasan dengan darat.
2) Neretik adalah daerah yang masih dapat ditembus sinar sang surya hingga komponen dasar yang dalamnya ± 300 meter.
3) Basial adalah daerah yang dalamnya berkisar antara 200 – 2.500 m
4) Abisal adalah daerah yang lebih dalam, adalah antara 1.500 – 10.000 m.
Menurut wilayah permukaan secara horizontal, berturutturut dari tepi laut kian ke tengah, laut dibedakan sebagai berikut.
1) Epipelagik adalah daerah antara permukaan dengan kedalaman air sekitar 200 m.
2) Mesopelagik adalah daerah dibawah epipelagik dengan kedalaman 200 – 1.000 m. Hewan yang hidup umpamanya ikan hiu.
3) Basiopelagik adalah daerah lereng benua dengan kedalaman 200 – 2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini umpamanya gurita.
4) Abisopelagik adalah daerah dengan kedalaman menempuh 4.000 m, tak terdapat tumbuhan melainkan binatang masih ada binatang yang hidup. Cahaya sang surya tak cakap menembus daerah ini.
5) Hadal pelagik adalah komponen laut terdalam (dasar), dengan kedalaman lebih dari 6.000 m. Ikan laut yang hidup di komponen ini umumnya dapat mengeluarkan sinar. Sebagai produsen di daerah ini adalah bakteri kemosintesis.
Di laut, binatang dan tumbuhan tingkat rendah mempunyai tekanan osmosis sel yang hampir sama dengan tekanan osmosis air laut. Hewan tingkat tinggi mengikuti keadaan dengan sistem banyak minum air, pengeluaran air kencing sedikit, dan pengeluaran air dengan sistem osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan diekskresikan melalui insang secara aktif.
2) Mesopelagik adalah daerah dibawah epipelagik dengan kedalaman 200 – 1.000 m. Hewan yang hidup umpamanya ikan hiu.
3) Basiopelagik adalah daerah lereng benua dengan kedalaman 200 – 2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini umpamanya gurita.
4) Abisopelagik adalah daerah dengan kedalaman menempuh 4.000 m, tak terdapat tumbuhan melainkan binatang masih ada binatang yang hidup. Cahaya sang surya tak cakap menembus daerah ini.
5) Hadal pelagik adalah komponen laut terdalam (dasar), dengan kedalaman lebih dari 6.000 m. Ikan laut yang hidup di komponen ini umumnya dapat mengeluarkan sinar. Sebagai produsen di daerah ini adalah bakteri kemosintesis.
Di laut, binatang dan tumbuhan tingkat rendah mempunyai tekanan osmosis sel yang hampir sama dengan tekanan osmosis air laut. Hewan tingkat tinggi mengikuti keadaan dengan sistem banyak minum air, pengeluaran air kencing sedikit, dan pengeluaran air dengan sistem osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan diekskresikan melalui insang secara aktif.
b. Ekosistem Pantai

Ekosistem pantai memiliki letak yang berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan berbagai daerah pasang surut. Ekosistem pantai diberi pengaruh oleh daur harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai mempunyai adaptasi struktural sehingga dapat merekat erat di substrat keras. Daerah pantai paling atas hanya terendam saat pasang naik tertinggi. Daerah ini dihuni oleh sebagian macam ganggang, moluska, dan remis yang menjadi makanan bagi kepiting dan burung pantai. Daerah pantai komponen tengah terendam saat pasang tertinggi dan pasang terrendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil. Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang ataupun surut. Daerah ini dihuni oleh beraneka Invertebrata, ikan, dan rumput laut.
Komunitas tumbuhan berturut-ikut serta dari daerah pasang surut ke arah darat dibedakan menjadi formasi pescaprae dan formasi baringtonia. Pada formasi pescaprae yang paling banyak ditemukan yaitu tumbuhan Ipomoea pescaprae yang mana tahan terhadap terjangan gelombang maupun angin; tumbuhan ini bisa menjalar dan berdaun tebal. Tumbuhan lainnya adalah Spinifex littorius (rumput angin), Vigna sp, Euphorbia atoto, dan Canaualia martina. Lebih ke arah darat lagi ditumbuhi Crinum asiaticum (bakung), Pandanus tectorius (pandan), dan Scaeuola Fruescens (babakoan). Pada formasi baringtonia didominasi tumbuhan baringtonia, termasuk di dalamnya Wedelia, Thespesia, Terminalia, Guettarda, dan Erythrina. Seandainya tanah di daerah pasang surut berlumpur, maka wilayah ini akan dihuni hutan bakau yang mempunyai akar napas. Akar napas adalah adaptasi tumbuhan di daerah berlumpur yang kurang oksigen. Selain berfungsi untuk mengambil oksigen, akar ini juga dapat diaplikasikan sebagai pembendung dari terjangan gelombang. Yang termasuk tumbuhan di hutan bakau yaitu ada beberapa antara lain Nypa, Acathus, Rhizophora, dan Cerbera. Seandainya tanah pasang surut tak terlalu basah, pohon yang kerap kali tumbuh adalah Heriticra, Lumnitzera, Acgicras, dan Cylocarpus.
Komunitas tumbuhan berturut-ikut serta dari daerah pasang surut ke arah darat dibedakan menjadi formasi pescaprae dan formasi baringtonia. Pada formasi pescaprae yang paling banyak ditemukan yaitu tumbuhan Ipomoea pescaprae yang mana tahan terhadap terjangan gelombang maupun angin; tumbuhan ini bisa menjalar dan berdaun tebal. Tumbuhan lainnya adalah Spinifex littorius (rumput angin), Vigna sp, Euphorbia atoto, dan Canaualia martina. Lebih ke arah darat lagi ditumbuhi Crinum asiaticum (bakung), Pandanus tectorius (pandan), dan Scaeuola Fruescens (babakoan). Pada formasi baringtonia didominasi tumbuhan baringtonia, termasuk di dalamnya Wedelia, Thespesia, Terminalia, Guettarda, dan Erythrina. Seandainya tanah di daerah pasang surut berlumpur, maka wilayah ini akan dihuni hutan bakau yang mempunyai akar napas. Akar napas adalah adaptasi tumbuhan di daerah berlumpur yang kurang oksigen. Selain berfungsi untuk mengambil oksigen, akar ini juga dapat diaplikasikan sebagai pembendung dari terjangan gelombang. Yang termasuk tumbuhan di hutan bakau yaitu ada beberapa antara lain Nypa, Acathus, Rhizophora, dan Cerbera. Seandainya tanah pasang surut tak terlalu basah, pohon yang kerap kali tumbuh adalah Heriticra, Lumnitzera, Acgicras, dan Cylocarpus.
c. Ekosistem Estuari
Estuari (muara sungai) adalah daerah bersatunya sungai dengan laut. Estuari kerap kali dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Salinitas air berubah secara berjenjang mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga diberi pengaruh oleh daur harian pasang surut. Nutrien dari sungai memperkaya estuari.
Komunitas tumbuhan yang saat ini hidup di estuari antara lain yaitu rumput rawa garam, ganggang, dan juga fitoplankton. Komunitas binatangnya antara lain beraneka cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Malah ada sebagian invertebrata laut dan ikan laut yang mewujudkan estuari sebagai daerah kawin atau berpindah untuk menuju habitat air tawar. Estuari juga adalah daerah mencari makan bagi Vertebrata semiair, umpamanya beraneka unggas air.
d. Ekosistem Terumbu Karang
Di laut tropis, pada daerah neritik terdapat suatu kelompok sosial khusus yang terdiri dari karang dan organisme lainnya. Komunitas ini disebut terumbu karang. Daerah kelompok sosial ini masih dapat ditembus sinar sang surya sehingga fotosintesis dapat berlangsung.

Terumbu karang yang didominasi oleh karang (atau koral) yang mensekresikan oleh kalsium karbonat. Rangka dari kalsium karbonat ini beraneka-macam bentuknya dan membentuk substrat daerah hidup karang lain dan ganggang. Hewan-binatang yang hidup di terumbu karang memakan organisme mikroskopis dan sisa bahan organik. Berjenis-jenis Invertebrata, mikroorganisme, dan ikan hidup di antara karang dan ganggang. Contoh dari hewan Herbivora yaitu siput, landak laut, dan ikan yang akan menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora.
Belum ada Komentar untuk "Pengertian dan Jenis-jenis Ekosistem Air Laut Beserta Contohnya"
Posting Komentar